***
Dewasa ini, alat transportasi baik yang
pribadi maupun publik dengan berbagai macam bentuk dan fungsi bisa di mana pun,
terutama di perkotaan seperti Jakarta. Menurut Perhimpunan studi pengembangan
wilayah, 18 juta kendaraan bermotor berlalu lalang di jalanan Jakarta setiap hari[2]. Kendaraan-kendaraan tersebut membantu
mendistribusikan barang produksi dari hulu ke hilir, mengantar para pekerja
menuju kantor mereka masing-masing, serta tujuan-tujuan lainnya.
ilustrasi Kota Jakarta
Adapun di Jakarta, kendaraan berplat hitam
sangat mendominasi jalanan ibu kota. Hal
ini dapat dilihat dari data yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada
tahun 2016 yang menyatakan bahwa komposisi kendaraan secara umum yaitu sepeda
motor 73,92%, mobil penumpang 19,58%, mobil beban 3,83%, mobil bus 1,88%, dan
kendaraan khusus 0,79%[3]. Jika dihitung secara kasar, maka terdapat
13.330.560 kendaraan roda dua dan 3.524.4000 kendaraan roda empat berseliweran setiap
hari, jumlah yang sangat fantastis.
Dengan banyaknya alat transportasi tersebut,
tentu berbanding lurus dengan dampak negatifnya terhadap lingkungan. Pencemaran
udara yang dihasilkan oleh moda transportasi tersebut tidak bisa dihindarkan.
Menurut Kementrian Lingkungan Hidup, sebagaimana yang dikutip oleh
mongabay.co.id, penghasil utama pencemar udara dan gas rumah kaca di perkotaan
adalah sektor transportasi yang menyumbang 23% dari total emisi, diikuti oleh
sumber-sumber pencemar lain seperti rumah tangga, industri, dan kegiatan lainnya[4].
Sebagai sumber utama polusi udara, alat
transportasi yang berbahan bakar minyak bumi tersebut menyumbang emisi-emisi
berbahaya seperti karbon dioksida (CO2), karbon monoksida (CO), serta nitrogen
oksida (N2O) ke udara. Gas buang tersebut sangat fatal akibatnya bagi lingkungan
serta kesejahteraan manusia.
Banyak penelitian mengungkapkan bahwa gas-gas
rumah kaca tersebut adalah salah satu faktor penyebab pemanasan global. Gas-gas
tersebut memerangkap panas yang dipancarkan oleh matahari sehingga suhu udara
di bumi mengalami kenaikan beberapa derajat selsius. Selain itu, gas tersebut
juga memicu terjadinya hujan asam yang bahkan dapat merusak bangunan dan
habitat hewan.
Gas keluaran tersebut jika dibiarkan akan
menelan kota seperti Jakarta dengan kabut asap yang mengkhawatirkan. Malapetaka
ini secara lokal akan berdampak pada kesehatan penduduk Jakarta sehingga mereka
akan menderita penyakit saluran pernafasan, mata yang gatal, serta mulut
kering. Adapun secara global, peningkatan suhu akan melelehkan es dan glasier
sehingga akan menenggelamkan pulau serta kota yang berlokasi tidak tinggi dari
permukaan laut, seperti Kota Jakarta.
Pemerintah DKI Jakarta tidak ingin
berlarut-larut menghadapi polusi udara tersebut. Untuk itu, pemerintah DKI Jakarta
berusaha menyediakan beberapa solusi. Di antaranya yaitu pengujian emisi
kendaraan bermotor oleh pemerintah secara rutin, pembatasan kendaraan bermotor
melalui pelat nomor ganjil dan genap[5], serta penyediaan alat transportasi massal ramah
lingkungan seperti busway, kereta listrik, mass rapid transit (MRT), serta yang
terbaru adalah light rail transit (LRT).
ilustrasi LRT
LRT merupakan moda transportasi terkini yang dimiliki
oleh Indonesia, khususnya yang berada di wilayah Jakarta. Terentang sepanjang
5,8 KM, fase pertama LRT Jakarta ini dimulai dari Depo Kelapa Gading hingga
Velodrome, Rawamangun. LRT Jakarta yang
dibuat oleh Hyundai Rotem dari Korea
Selatan ini kelola oleh PT LRT Jakarta. LRT Jakarta juga diklaim memiliki banyak
kelebihan lain di antaranya adalah sistem articulated bogie. Sistem yang baru
pertama kali diterapkan di Indonesia ini membuat LRT lebih lincah dan luwes mengikuti
kontur jalur trek pada tikungan tajam, serta lebih aman dan terpercaya[6].
Sistem integrasi antar moda transportasi yang
dilakukan oleh LRT Jakarta dengan Transjakarta juga menjadi daya tarik. Titik temu
pertama adalah antara Halte Transjakarta di Rawamangun dengan Stasiun LRT
Jakarta Velodrome. Hal ini didorong dengan jembatan penghubung antara stasiun
dan halte untuk mewujudkan program
pemerintah DKI Jakarta yaitu Jak Lingko[7].
Menurut penulis, konsep yang diusung LRT
Jakarta dalam pembangunannya adalah sustainable transportation. Keberlanjutan dalam
hal transportasi menurut Jha berbeda dengan pembangunan moda transportasi
tradisional yang menitikberatkan pada penghematan biaya produksi, tetapi lebih
condong pada penyediaan keberlanjutan pada lingkungan. Sustainable transportation
harus aman, sehat, serta terbarukan[8]. Hal ini sesuai dengan visi dan misi LRT
Jakarta menjadi solusi mobilitas publik terbaik di Indonesia[9].
Selain itu, LRT Jakarta yang memiliki slogan Moving
People Connecting Communities juga mampu menampung hingga 135 penumpang pada
satu kereta. Sehingga, satu rangkaian trainset bisa mengangkut 270 penumpang
baik yang berdiri maupun yang duduk. Sedangkan pada jam operasional, LRT
Jakarta menjalankan tiga sampai empat rangkaian trainset sehingga total
penumpang yang dapat diantarkan adalah 1080 orang[10].
Hal ini tentu diharapkan dapat mengurangi
emisi gas rumah kaca. Jika membandingkan daya tampung antara LRT dengan
kendaraan pribadi lainnya, maka 1080 orang membutuhkan kira-kira 180 mobil
dengan asumsi satu mobil berkapasitas 6 orang; atau 540 sepeda motor dengan
asumsi per motor mampu mengantar 2 orang. Padahal, nyatanya lebih banyak orang
yang menggunakan kendaraan pribadinya sendirian tanpa ada penumpang lainnya.
Menurut the guardian, setiap kilometer jarak
yang ditempuh oleh mobil bahan bakar fosil menghasilkan 125 gram CO2. Jumlah ini
sudah termasuk dengan karbon dioksida yang dikeluarkan ketika pengolahan bahan
bakar fosil itu sendiri[11]. Selama setahun, maka akan memroduksi 8,21 ton
CO2, belum termasuk jumlah CO2 yang dihasilkan selama proses produksi mobil itu
sendiri setara 5,6 ton. Jumlah emisi sebesar itu dapat dikurangi apabila
masyarakat Jakarta beralih pada penggunaan LRT Jakarta yang lebih eco-friendly.
Di samping itu, bahan bakar yang digunakan
oleh LRT Jakarta adalah listrik. Listrik dianggap oleh para ilmuwan lebih ramah
lingkungan karena listrik merupakan energi terbarukan. Tidak seperti bahan
bakar fosil yang akan habis dalam waktu beberapa dekade ke depan, listrik lebih
berkelanjutan karena dapat diproduksi terus menerus menggunakan energi alam yang
lebih ramah lingkungan seperti surya, gelombang laut, dan bayu. Listrik juga
dipandang menghasilkan lebih sedikit jejak karbon daripada bahan bakar fosil.
Dari uraian-uraian di atas, penting diketahui
bahwa sektor transportasi menjadi penyumbang terbesar gas rumah kaca di
perkotaan, terutama Kota Jakarta. Oleh sebab itu, permasalahan ini memerlukan sebuah
solusi yaitu alat transportasi yang ramah lingkungan, berkelanjutan, serta
terintegrasi dalam wujud LRT Jakarta yang luwes, lincah, dan terpercaya. Ayo
naik LRT Jakarta!
kata kunci pencarian:
kata kunci pencarian:
LRT Jakarta
Intregrasi
Depo
Stasiun
Lincah
Ramah
Terpercaya
Moving people connecting communities
Terpercaya
Moving people connecting communities
[3] Ibid
[7] Ibid
[8] Jha MK, Ogallob HG, Owolabia O (2013) A
quantitativeanalysis of sustainability and green transportationinitiatives in
highway design and maintenance In: Meeting of the EURO working group on
transportation
[11] Sean Clarke, https://www.theguardian.com/football/ng-interactive/2017/dec/25/how-green-are-electric-cars






