Selasa, 30 April 2019



 Jakarta – ibu kota Indonesia, baru saja mendapatkan “penghargaan” sebagai kota dengan tingkat polusi udara tertinggi di Asia Tenggara oleh Greenpeace dan AirVisual IQ. Studi yang dilaksanakan pada tahun 2018 tersebut menyebutkan bahwa Kota Jakarta mendapatkan skor 45,3 yang mengindikasikan bahwa tingkat polusi udara pada taraf “tidak sehat”[1]. Rerata ini meningkat hampir dua kali lipat dari yang didapatkan oleh Kota Jakarta pada tahun 2017 yaitu “hanya” 29,7. Akibatnya, Jakarta menempati urutan ke 160 di dunia untuk kategori kota dengan kualitas udara terburuk.

***

Dewasa ini, alat transportasi baik yang pribadi maupun publik dengan berbagai macam bentuk dan fungsi bisa di mana pun, terutama di perkotaan seperti Jakarta. Menurut Perhimpunan studi pengembangan wilayah, 18 juta kendaraan bermotor berlalu lalang di jalanan Jakarta setiap hari[2]. Kendaraan-kendaraan tersebut membantu mendistribusikan barang produksi dari hulu ke hilir, mengantar para pekerja menuju kantor mereka masing-masing, serta tujuan-tujuan lainnya.


ilustrasi Kota Jakarta
Photo by Appai on Unsplash

Adapun di Jakarta, kendaraan berplat hitam sangat mendominasi jalanan ibu kota.  Hal ini dapat dilihat dari data yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2016 yang menyatakan bahwa komposisi kendaraan secara umum yaitu sepeda motor 73,92%, mobil penumpang 19,58%, mobil beban 3,83%, mobil bus 1,88%, dan kendaraan khusus 0,79%[3]. Jika dihitung secara kasar, maka terdapat 13.330.560 kendaraan roda dua dan 3.524.4000 kendaraan roda empat berseliweran setiap hari, jumlah yang sangat fantastis.

Dengan banyaknya alat transportasi tersebut, tentu berbanding lurus dengan dampak negatifnya terhadap lingkungan. Pencemaran udara yang dihasilkan oleh moda transportasi tersebut tidak bisa dihindarkan. Menurut Kementrian Lingkungan Hidup, sebagaimana yang dikutip oleh mongabay.co.id, penghasil utama pencemar udara dan gas rumah kaca di perkotaan adalah sektor transportasi yang menyumbang 23% dari total emisi, diikuti oleh sumber-sumber pencemar lain seperti rumah tangga, industri, dan kegiatan lainnya[4].

Sebagai sumber utama polusi udara, alat transportasi yang berbahan bakar minyak bumi tersebut menyumbang emisi-emisi berbahaya seperti karbon dioksida (CO2), karbon monoksida (CO), serta nitrogen oksida (N2O) ke udara. Gas buang tersebut sangat fatal akibatnya bagi lingkungan serta kesejahteraan manusia.

Banyak penelitian mengungkapkan bahwa gas-gas rumah kaca tersebut adalah salah satu faktor penyebab pemanasan global. Gas-gas tersebut memerangkap panas yang dipancarkan oleh matahari sehingga suhu udara di bumi mengalami kenaikan beberapa derajat selsius. Selain itu, gas tersebut juga memicu terjadinya hujan asam yang bahkan dapat merusak bangunan dan habitat hewan.

Gas keluaran tersebut jika dibiarkan akan menelan kota seperti Jakarta dengan kabut asap yang mengkhawatirkan. Malapetaka ini secara lokal akan berdampak pada kesehatan penduduk Jakarta sehingga mereka akan menderita penyakit saluran pernafasan, mata yang gatal, serta mulut kering. Adapun secara global, peningkatan suhu akan melelehkan es dan glasier sehingga akan menenggelamkan pulau serta kota yang berlokasi tidak tinggi dari permukaan laut, seperti Kota Jakarta.

Pemerintah DKI Jakarta tidak ingin berlarut-larut menghadapi polusi udara tersebut. Untuk itu, pemerintah DKI Jakarta berusaha menyediakan beberapa solusi. Di antaranya yaitu pengujian emisi kendaraan bermotor oleh pemerintah secara rutin, pembatasan kendaraan bermotor melalui pelat nomor ganjil dan genap[5], serta penyediaan alat transportasi massal ramah lingkungan seperti busway, kereta listrik, mass rapid transit (MRT), serta yang terbaru adalah light rail transit (LRT).


ilustrasi LRT
Photo by Andrew Haimerl on Unsplash

LRT merupakan moda transportasi terkini yang dimiliki oleh Indonesia, khususnya yang berada di wilayah Jakarta. Terentang sepanjang 5,8 KM, fase pertama LRT Jakarta ini dimulai dari Depo Kelapa Gading hingga Velodrome, Rawamangun.  LRT Jakarta yang dibuat oleh Hyundai Rotem dari  Korea Selatan ini kelola oleh PT LRT Jakarta. LRT Jakarta juga diklaim memiliki banyak kelebihan lain di antaranya adalah sistem articulated bogie. Sistem yang baru pertama kali diterapkan di Indonesia ini membuat LRT lebih lincah dan luwes mengikuti kontur jalur trek pada tikungan tajam, serta lebih aman dan terpercaya[6].

Sistem integrasi antar moda transportasi yang dilakukan oleh LRT Jakarta dengan Transjakarta juga menjadi daya tarik. Titik temu pertama adalah antara Halte Transjakarta di Rawamangun dengan Stasiun LRT Jakarta Velodrome. Hal ini didorong dengan jembatan penghubung antara stasiun dan halte untuk mewujudkan  program pemerintah DKI Jakarta yaitu Jak Lingko[7].

Menurut penulis, konsep yang diusung LRT Jakarta dalam pembangunannya adalah sustainable transportation. Keberlanjutan dalam hal transportasi menurut Jha berbeda dengan pembangunan moda transportasi tradisional yang menitikberatkan pada penghematan biaya produksi, tetapi lebih condong pada penyediaan keberlanjutan pada lingkungan. Sustainable transportation  harus aman, sehat, serta terbarukan[8]. Hal ini sesuai dengan visi dan misi LRT Jakarta menjadi solusi mobilitas publik terbaik di Indonesia[9].

Selain itu, LRT Jakarta yang memiliki slogan Moving People Connecting Communities juga mampu menampung hingga 135 penumpang pada satu kereta. Sehingga, satu rangkaian trainset bisa mengangkut 270 penumpang baik yang berdiri maupun yang duduk. Sedangkan pada jam operasional, LRT Jakarta menjalankan tiga sampai empat rangkaian trainset sehingga total penumpang yang dapat diantarkan adalah 1080 orang[10].

Hal ini tentu diharapkan dapat mengurangi emisi gas rumah kaca. Jika membandingkan daya tampung antara LRT dengan kendaraan pribadi lainnya, maka 1080 orang membutuhkan kira-kira 180 mobil dengan asumsi satu mobil berkapasitas 6 orang; atau 540 sepeda motor dengan asumsi per motor mampu mengantar 2 orang. Padahal, nyatanya lebih banyak orang yang menggunakan kendaraan pribadinya sendirian tanpa ada penumpang lainnya.

Menurut the guardian, setiap kilometer jarak yang ditempuh oleh mobil bahan bakar fosil menghasilkan 125 gram CO2. Jumlah ini sudah termasuk dengan karbon dioksida yang dikeluarkan ketika pengolahan bahan bakar fosil itu sendiri[11]. Selama setahun, maka akan memroduksi 8,21 ton CO2, belum termasuk jumlah CO2 yang dihasilkan selama proses produksi mobil itu sendiri setara 5,6 ton. Jumlah emisi sebesar itu dapat dikurangi apabila masyarakat Jakarta beralih pada penggunaan LRT Jakarta yang lebih eco-friendly.



ilustrasi kincir angin penghasil listrik
Photo by Tyler Casey on Unsplash

Di samping itu, bahan bakar yang digunakan oleh LRT Jakarta adalah listrik. Listrik dianggap oleh para ilmuwan lebih ramah lingkungan karena listrik merupakan energi terbarukan. Tidak seperti bahan bakar fosil yang akan habis dalam waktu beberapa dekade ke depan, listrik lebih berkelanjutan karena dapat diproduksi terus menerus menggunakan energi alam yang lebih ramah lingkungan seperti surya, gelombang laut, dan bayu. Listrik juga dipandang menghasilkan lebih sedikit jejak karbon daripada bahan bakar fosil.

Dari uraian-uraian di atas, penting diketahui bahwa sektor transportasi menjadi penyumbang terbesar gas rumah kaca di perkotaan, terutama Kota Jakarta. Oleh sebab itu, permasalahan ini memerlukan sebuah solusi yaitu alat transportasi yang ramah lingkungan, berkelanjutan, serta terintegrasi dalam wujud LRT Jakarta yang luwes, lincah, dan terpercaya. Ayo naik LRT Jakarta!


kata kunci pencarian:

LRT Jakarta
Intregrasi
Depo
Stasiun
Lincah
Ramah
Terpercaya
Moving people connecting communities




[3] Ibid
[7] Ibid
[8] Jha MK, Ogallob HG, Owolabia O (2013) A quantitativeanalysis of sustainability and green transportationinitiatives in highway design and maintenance In: Meeting of the EURO working group on transportation
[11] Sean Clarke, https://www.theguardian.com/football/ng-interactive/2017/dec/25/how-green-are-electric-cars


0 komentar:

Posting Komentar

Blogroll

Blogger templates

About

Mozaik Saya merupakan sebuah blog yang sederhana. Blog ini bertujuan untuk membagikan beberapa artikel yang sekiranya bermanfaat. Koreksi saya jika saya salah.